Dapatkah dibayangkan seandainya dunia ini tidak pernah dihantam asteroid
yang memusnahkan seluruh populasi dinosaurus. Apa yang akan terjadi, dan
bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan mereka?
Kegemparan semacam itu sulit sekali dibayangkan. Sebuah asteroid
berdiameter 15 kilometer menghujam Bumi 66 juta tahun lalu, dengan guncangannya
setara 10 miliar bom Hiroshima. Bola api radioaktif menyebar ke berbagai arah
hingga beratus-ratus kilometer dan menciptakan tsunami yang merendam separuh
planet ini. Dinosaurus golongan 'bukan burung' tak punya harapan hidup sama
sekali. Cuma yang berbadan kecil dan dinosaurus berbulu serta bersayap yang
sekarang kita sebut burung yang bisa selamat.
Lalu, apa jadinya jika sejarah berkata
lain? Seandainya saja asteroid tadi terlambat dan dunia ini lolos dari tumbukan
dahsyat? Skenario alternatif semacam ini yang sedang dipelajari oleh ilmuwan
lewat sebuah dokumenter terbaru BBC berjudul The Day
the Dinosaurs Died atau jika diterjemahkan artinya Hari dimana dinosaurus mati.
Ilmuwan yang terlibat, salah satunya ahli geologi Sean Gulick dari
Universitas Texas, mengatakan bahwa seandainya asteroid beberapa menit lebih
awal atau lebih lambat maka lokasi tumbukan bukan di perairan dangkal
semenanjung Yucatan Meksiko, tapi di perairan dalam Samudera Pasifik atau Atlantik.
Sebagian dayanya akan terserap sehingga ini akan mengurangi jumlah sedimen
belerang yang lepas dan tertelan oleh atmosfer selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun sesudahnya.
Seandainya skenario ini yang terjadi, maka bencana dan kepunahan tetap ada
namun beberapa dinosaurus besar kemungkinan masih tersisa. Menimbang-nimbang
kemungkinan ini, banyak ilmuwan yang mempelajari dinosaurus antusias melempar
spekulasi.
Akankah dinosaurus hidup sampai hari
ini? Adakah jenis dinosaurus baru yang muncul? Mungkinkah dinosaurus pada
akhirnya punya kecerdasan seperti manusia? Akankah mamalia hidup dalam
bayang-bayang? Akankah manusia berevolusi dan - sebagaimana digambarkan dalam
film Disney 2015, The Good Dinosaur - menemukan cara
bertahan hidup bersama mereka?
Hal ini kemudian dibantah oleh beberapa peneliti yang meyakini bahwa tanpa
adanya asteroid pun, masa dinosaurus sudah tamat. ''Saya punya pendapat yang
agak tidak ortodoks, bahwa sebab kepunahan dinosaurus adalah iklim yang
dingin,'' kata Mike Benton, seorang paleontolog di University of Bristol,
Inggris.
''Mereka cuma bisa bertahan hingga pengujung Zaman Kapur, tapi kita tahu
bahwa jenis mamalia sudah semakin beragam ... [dan] jumlah dinosaurus mengalami
kemunduran selama 40 juta tahun.'' Benton yakin mamalia tetap akan menggantikan
dinosaurus. Dia pernah menulis sebuah laporan di tahun 2016 yang menyebutkan
bahwa dinosaurus lebih pelan dari mamalia dalam menggantikan spesies yang
punah.
lmuwan lainnya berpendapat berbeda. Peneliti dinosaurus karnivor dari
University of Maryland di College Park, AS, Tom Holtz sependapat bahwa pada
akhirnya akan terjadi kepunahan 66 juta tahun yang lalu yang diakibatkan oleh
erupsi dan masifnya aliran lava di Deccan Traps, India. Tapi dia bilang ''tidak
ada pilihan lain, begitu Anda memasuki Periode Paleosen dan Eosen, secara umum
biologi dinosaurus terpengaruh. Akan ada dunia dimana di Zaman Kapur,
dinosaurus masih bisa hidup dengan nyaman.''
Stephen Brusatte dari University of Edinburgh menambahkan bahwa dinosaurus
mampu bertahan hidup dengan baik, cukup baik dengan keragaman jenis, teruji
mampu melewati perubahan iklim, selama 160 juta tahun lamanya. ''Dinosaurus
masih bisa beradaptasi hingga akhir Zaman Kapur, sehingga hewan ini bukan jenis
yang menyia-nyiakan kepunahan, tetapi hanya menungguh datangnya asteroid untuk
menghantam mereka. Ini adalah penanda bahwa kelompok dinosaurus sebenarnya
masih bunya banyak potensi untuk berevolusi.
Jika diasumsikan dinosaurus masih bisa selamat, lantas faktor apa saja yang
kemudian membentuk evolusi mereka? Perubahan iklim boleh jadi menjadi rintangan
besar mereka yang pertama. Fenomena yang dikenal juga sebagai Suhu Maksimum
Paleosen-Eosen pada 55 juta tahun lalu adalah bukti bahwa suhu rata-rata global
lebih panas 8 derajat Celsius dibandingkan hari ini dan hutan hujan pun tumbuh
lebat di sebagian besar daratan Bumi.
Di dunia yang panas dengan vegetasi berlimpah, kemungkinan juga akan banyak
sauropods leher panjang, berkembang biak di usia muda dan ukurannya menyusut;
beberapa sauropods 'kerdil' (beberapa hanya lebih besar sedikit dari sapi)
diketahui ada di kepulauan Eropa pada pengujung Zaman Kapur. Titanosaurus
terbesar dari pertengahan Zaman Kapur Amerika Selatan - hewan yang panjangnya
40 meter lebih berat daripada dua pesawat jet - sudah lama punah.
Tren lain di pengujung Zaman Kapur adalah meningkatnya tumbuhan bunga atau
angiosperm. Di Zaman Jura, sebagian besar tumbuhan yang hidup adalah pakis dan
gimnosperm (termasuk diantaranya ginseng, cycads, dan pohon berdaun jarum).
Tanaman jenis ini nutrisinya kurang jika dibandingkan dengan angiosperm dan ada
sejumlah besar sauropoda yang butuh waktu mencerna secara efisien, akibat
metabolisme dan ukuran usus mereka.
''Jika evolusi tumbuhan terus berlanjut seperti di zaman modern saat ini,
dinosaurus herbivor tentunya akan memakan sebagian besar tumbuhan berbunga,''
demikian menurut Matt Bonnan, palentolog dari Stockton University di New
Jersey. ''Sebab entah bagaimana, mereka lebih mudah dicerna dan kemungkinan
kita masih bisa melihat penyusutan ukuran tubuh ... dinosaurus raksasa dari
Zaman Reptil kemungkinan sudah hilang.''
Bersamaan dengan kemunculan tumbuhan berbunga, hadir pula buah yang secara
berbarengan mengalami evolusi bersama mamalia dan burung, yang membantu
penyebaran benih tanaman. Kemungkinan dinosaurus seperti monyet telah
berevolusi untuk mengambil keuntungan dari sumber ini, sama seperti primata
pada masa hidup kita? ''Banyak burung yang makan buah. Jadi, kemungkinan juga
ada dinosaurus bukan burung beradaptasi ke diet yang lebih banyak komponen
buahnya,'' kata Bonnan.
Brusatte sependapat bahwa beberapa ''dinosaurus kecil dan berbulu
kemungkinan mengikuti jejak primata,'' sebab beberapa sudah bisa berlarian di
dahan pohon. Lainnya kini menjadi peminum nektar, menyebar serbuk sari dari
bunga yang satu ke bunga lain pada prosesnya.
Peristiwa besar lainnya, sekitar 34 juta tahun yang lalu di zaman peralihan
antara Kala Eosen dan Oligocene, adalah terpisahnya Amerika Selatan dan Kutub
Selatan. Hal ini penyebab munculnya arus sirkumpolar sehingga muncul es dan
kawasan Kutub Selatan serta sejumlah wilayah kering suhunya berubah dingin.
Selama Kala Oligosen hingga Kala Miosen, kawasan padang berumput bertambah luas
dan menutupi sebagian besar wilayah Bumi.
''Dengan kaki lebih ramping dan sanggup berlari cepat, mamalia herbivor pun
semakin umum - kalau di masa sebelumnya Anda punya tempat persembunyian namun
di padang rumput terbuka tidak ada penghalang lagi,'' kata Holtz. Itulah saat
dimana dalam sejarah kita mulai melihat ledakan beraneka ragam hewan berkuku,
hewan yang suka merumput, dan karnivor yang gemar mengintai mangsa mereka.
Darren Naish, seorang ahli palentologi vertebrata di Southhampton Inggris
mengatakan bahwa di lini masa alternatif tersebut dinosaurus yang bisa bergerak
cepat di padang rumput akan menjadi nenek moyang dari kerabat bertanduk
Triceratops atau heran yang bisa berdiri di dua kaki, atau herbivor berparuh
seperti Hypsilophodon.
''Dinosaurus terlahir dengan banyak keuntungan evolusi, sedangkan butuh
waktu yang lama bagi mamalia untuk berevolusi,'' imbuh dia, sehingga mereka
bisa lebih awal beradaptasi dengan padang rumput. Hadrosaurus yang seperti
bebek punya 'baterei' berupa 1.000 gigi di rahang mereka, coba bandingkan
dengan kuda yang hanya memiliki 40 gigi aneh, sehingga proses mereka mengunyah
rumput bisa lebih cepat.
Dinosaurus juga mempunyai penglihatan yang jauh lebih baik jika
dibandingkan dengan mamalia. Kemampuan mereka mengenal warna lebih bagus,
sehingga mereka kemungkinan akan lebih cepat mendeteksi bahaya. Kuda dan sapi
ototnya rata dan dipakai untuk mencerna tumbuhan yang tumbuh rendah dan
bertekstur keras, sehingga paruh bebek dan sauropoda kemungkinan memiliki
moncong yang lebih kotak dan leher sauropoda lebih pendek untuk membantunya
menjangkau rumput di permukaan tanah.
Di zaman yang tak jauh dari masa sekarang, dinosaurus akan berhadapan
dengan Zaman Es yang terjadi pada 2,6 juta tahun yang lalu. Tapi kita tahu
bahwa dinosaurus dari Zaman Kapur hidupnya di atas Lingkar Kutub. ''Mungkin di
tempat yang lebih dingin Anda akan melihat hewan-hewan dengan bulu lebih tebal
dan sudah lebih berkembang, bulu-bulu halus menutupi tubuh sampai ke bawah ke
ujung kaki dan ekor,'' kata Naish.
''Akan sulit bagi tiranosaurus atau dromaeosaurus berbulu tebal yang masih
berkerabat dengan Velociraptor untuk berevolusi,'' imbuh ahli dinosaurus
Victoria Arbour dari Royal Ontario Museum di Kanada. ''Mungkin kita bahkan bisa
memiliki ceratopsian, ankylosaurus, dan hadrosaurus yang berewok dan berbulu
lebat.''
Ada adaptasi lain yang umum belakangan ini, tapi jarang terjadi di
dinosaurus. Kebiasaan menggali contohnya, kata Paul Barrett, palentolog di
Natural History Museum di London. ''Anehnya dinosaurus tidak punya perilaku
seperti ini, walaupun sesungguhnya cara hidup ini umum di kalangan kadal dan
ular.'' Seandainya ada waktu lebih, beberapa dinosaurus kemungkinan menjadi
spesialis subterranean - sisik atau berbulu ekuivalen dengan tikus mamalia.
seperti Spinosaurus banyak yang hidup di daerah muara dan lingkungan
sungai. Sedangkan, ankylosaurus armoured sering ditemukan fosilnya dalam
sedimen laut dan hidup di sepanjang garis pantai. Bisakah spinosaurus atau
ankylosaurus mengikuti jejak paus mamalia dan berevolusi untuk benar-benar
hidup di laut? Mereka bisa saja kembali ke darat untuk meletakkan telur atau
bisa juga melahirkan dan semasa muda hidup di laut seperti apa yang terjadi
pada ichtyosaurus dan plesiosaurus.
Di dunia dimana dinosaurus di darat tidak pernah punah, pterosaurus di
langit dan ichthyosaurus dan mosasaurus di laut, apa nasibnya dengan burung dan
mamalia?
Jenis burung sudah sangat beragam di akhir Zaman Kapur. ''Keragaman
Pterosaurus benar-benar mengalami kemunduran,'' kata Holtz, mungkin gara-gara
ini. Ptesaurus yang tersisa termasuk azhdarchids ompong dan berukuran besar,
beberapa seukuran pesawat dengan rentang sayap 12 meter. Sudah juga
diperdebatkan tentang apakah beberapa azhdarchids tidak bisa terbang, dan Anda
bisa bayangkan dunia dimana pulau-pulau seperti Madagaskar, Mauritius, dan
Selandia Baru didominasi oleh pterosaurus darat yang aneh, seperti di lini masa
kita dimana pernah ada burung gajah yang tidak bisa terbang, dodo, dan belut
raksasa.
Naish membantah anggapan bahwa di dunia dinosaurus mirip dengan keragaman
burung modern saat ini. Akan tetapi, beda ceritanya dengan mamalia. Walaupun
mereka sudah ada sekitar 160 juta tahun saat tumbukan dengan asteroid, mereka
masih ''mahluk kecil terpinggirkan yang hidupnya terus bersembunyi'' kata
Brusatte, beragam tapi jumlahnya kecil dan terbatas pada jenis tertentu saja.
''Hanya guncangan dari asteroid yang menyebabkan kepunahan dinosaurus yang
membuat mereka bebas berkeliaran,'' kata dia.
Lainnya tidak setuju, meski mengakui bahwa sebagian besar megafauna
kemungkinan tidak memiliki peluang hidup tapi kelelawar, tikus besar, karnivora
kecil, dan primata yang bisa memanjat dan posum jumlahnya kemungkinan
berlimpah. Jika marmoset, langur, dan gibon berayun di cabang sementara
dinosaurus menjelajah di sekitar mereka, mungkinkah sesuatu yang mirip dengan
manusia juga berevolusi?
''Beberapa garis keturunan mamalia sudah berevolusi sebelum kepunahan,''
kata Naish. ''Mengingat hal itu, Anda mungkin masih mendapat primata dan ...
[mungkin] satu versi lain dari manusia. Mengingat kita berevolusi di dunia yang
penuh dengan mamalia besar, itu wajar.''
Holtz setuju ini mungkin saja terjadi: ''Anda kemungkinan memiliki beberapa
primata yang hidup di pohon yang seiring dengan meluasnya padang rumput mereka
pindah ke habitat tersebut dan menjadi pseudo-manusia di dunia alternatif ini.
Dan sama seperti nenek moyang kita yang harus berurusan dengan kucing besar
bergigi tajam dan antelop besar, mereka harus berurusan dengan dromaeosaurus
dan abelisaurus.''
Manusia perlu membuat tempat berlindung, yang diakui Naish berproses selama
satu juta tahun, tapi dia menekankan juga bahwa di zaman dulu nenek moyang kita
juga harus hidup berdampingan dengan hewan besar berbahaya serta perlu menyusun
strategi untuk bertahan hidup. ''Anggapan orang, di Zaman Reptil situasinya bermandi
darah terus-terusan. Tubuh manusia bisa dikoyak menjadi serpihan hanya dalam
hitungan detik. Tapi seringnya distribusi predator besar ini jarang sehingga
dunia sesungguhnya relatif aman selama manusia bisa menjauhi wilayah jelajah
mereka.''
Dengan terbukanya peluang mamalia berevolusi menjadi mahluk cerdas, bisakah
dinosaurus juga mengalami evolusi serupa? Di tahun 1982, Dale Russell yang saat
itu bekerja di Canadian Museum of Nature di Ottawa mempublikasikan sebuah hasil
penelitian yang menyebutkan bahwa 'dinosauroid' cerdas kemungkinan satu hari
bisa muncul. Dia kemudian membuat model sesuai skala sebenarnya, yang sekarang
tampak seperti alien dari pertunjukan sains fiksi kuno, dengan kulit hijau dan
mata besar. Dia berteori, dinosaurus karnivor Troodon memiliki besar otak yang
tidak biasa dan kemungkinan masih satu keturunan dengan dinosaurus pintar yang
berevolusi.
''Dinosaurus sebanding dengan gagak, nuri atau primata. Otaknya kompleks
dan kemampuannya memecahkan masalah kemungkinan sudah mengalami evolusi juga,''
kata Holtz yang sepakat mungkin ada dinosaurus cerdas, tapi menurutnya dari
segi bentuk tidak mungkin kemudian berkembang mendekati rupa manusia. ''Janggal
sekali kalau kemudian mirip manusia, sebab itu berarti dalam prosesnya dia
harus bergelantungan di pohon dan seterusnya ... artinya dinosaurus juga harus
bisa berjalan di atas kedua kaki dan tangannya bisa dimanipulasi.''
''Saya pikir tidak mungkin tingkat inteligensinya mendekati manusia,'' kata
Naish. ''Bisa saja ada dinosaurus berotak besar dan cerdas, tapi bentuk mereka
akan tetap seperti dinosaurus... Antropomorfik jika berasumsi bahwa ada spesies
lain yang berevolusi dengan kecerdasan seperti manusia.''
Dengan berasumsi bahwa dinosaurus bisa lolos dari malapetaka dan bertahan
hingga beberapa ratus ribu tahun terakhir serta hidup berdampingan dengan
manusia, bisakah mereka bertahan hidup sampai hari ini? Jawabannya kemungkinan
iya. Tapi sama seperti manusia memburu mamoth dan megafauna lain sampai punah,
pertumbuhan populasi kita dan teknologi berburu pastinya akan mengorbankan
dinosaurus besar seiring dengan menyebarnya manusia ke seluruh penjuru Bumi.
''Kemungkinan ada peristiwa kepunahan megafaunal dari dinosaurus Pleistosen,
seiring dengan migrasi manusia beranjak keluar dari entah dimanapun tempat
mereka sesungguhnya berasal,'' kata Holtz.
Di masa sekarang dengan linimasa alternatif ini, kemungkinan beberapa
spesies sauropoda pemakan daun yang besar dan bahkan karnivor yang mirip dengan
T-rex, kemungkinan bisa bertahan hidup di wilayah lindung dan taman nasional
yang wilayahnya cukup besar untuk memuat daerah jelajah hewan tersebut. Mereka
betul-betul harus punya kawasan liar yang luas sehingga kemungkinan pembangunan
di wilayah terpencil di Australia dan Alaska harus dibatasi.
Sedangkan beberapa dinosaurus bukan burung yang ukuran kecil harus
beradaptasi dengan lingkungan perkotaan, berkembang bersama dengan orang kota,
seperti merpati, tikus, dan camar seperti di kondisi kita saat ini.
Walau di masa lalu mamalia besar umumnya punah, beberapa seperti gajah dan
badak masih bisa bertahan. Maka tidak berlebihan kalau kita memparalelkan
situasinya dengan kondisi saat ini dimana Anda bisa melakukan safari dinosaurus
ala Jurassic Park sambil mengamati mereka dari jauh dengan kamera atau teropong
di tangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar