Liputan6.com,
Michigan - Pada
tahun 2015, seorang petani kedelai bernama James Bristle membuat penemuan yang
mengejutkan. Di perkebunan miliknya yang terletak di Michigan, James menemukan
sebuah tulang rusuk yang begitu besar.
Mendengar hal tersebut, ahli paleontologi dari University of
Michigan datang untuk meneliti. Saat itu mereka kaget bukan main. Pasalnya,
telah ditemukan tengkorak dan tulang mammoth kuno yang sangat besar.
Paleontologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari mengenai
sejarah kehidupan di bumi dan tanaman serta hewan purba berdasarkan fosil yang
ditemukan di bebatuan.
Dilansir dari laman Newsweek.com,
Rabu (6/12/2017), baru-baru ini kelompok paleontologi tersebut kembali datang
ke perkebunan dan menemukan lebih banyak tulang-belulang.
Tak hanya penemuan saja, beberapa informasi berhasil dihimpun.
Ternyata, dari kajian menunjukan bahwa ada manusia purba kala yang tinggal di
wilayah tersebut dan diduga telah berburu mammothuntuk dikonsumsi
dagingnya.
Daniel Fisher, ahli
paleontologi di University of Michigan mengatakan, untuk sementara informasi
hanya berkutat pada dugaan sementara.
Dugaan lain yang mengejutkan banyak pihak adalah cara yang
digunakan manusia purba untuk menyimpan pasokan daging mammoth untuk dikonsumsi kembali.
Fisher menduga, manusia purba itu menyembunyikan pasokan daging
dan tulang di dasar lobang besar. Kemudian daging itu ditimbun dengan tanah
yang dilapisi oleh bebatuan.
Hal semacam ini dilakukan agar hewan buas lain tak mudah menggali
atau mengais daging tersebut.
"Cara seperti ini benar-benar bekerja. Di luar perkiraan
kita semua," ujar Fisher.
Dalam penemuan tersebut, para peneliti juga menemukan ada bekas
luka kapak di bagian tengkorak mammoth. Hal ini menunjukkan bahwa lewat cara
inilah manusia purba melumpuhkan hewan raksasa tersebut.
"Ini bukan cara biasa. Mereka adalah 'Tukang Potong Daging'
yang sangat ulung," ujar Fisher.
Bekas luka pada bagian tengkorak mammoth mengindikasi adanya penggunaan alat,
diduga kapak.
Penemuan ini tentu menjadi kajian baru yang akan terus diteliti
oleh pihak University of Michigan. Diharapkan penemuan ini dapat memberi
manfaat dalam urusan pendidikan tinggi.
Selain penemuan tulang mammoth, para peneliti juga percaya bahwa
wilayah Michigan sebagai rumah bagi manusia purba (orang-orang Clovis) sekitar 13
ribu tahun yang lalu.
Orang
pertama yang berhasil mencapai Kutub Utara adalah penjelajah Amerika Serikat,
Robert Peary, pada 1900. Atau mungkin, Frederick Cook, pada 1908. Para ahli
sejarah hingga kini masih belum yakin, siapa di antara mereka berdua yang
pertama kali menjejakkan kakinya di situ.
Bagaimanapun, itu adalah cerita yang pas untuk penemuan di
Arktik, sudut dunia di mana ambiguitas merajai.
Bahkan tidak ada konsensus resmi di mana itu Arktik.
Secara teknis, Arktik mengacu apa pun di atas lingkaran Arktik,
yang memiliki lintang 66 derajat, 32 menit Utara. Definisi Amerika Serikat,
kawasan itu mencakup semua Laut Bering (yang membentang selatan sejauh 53
derajat).
Sementara beberapa ilmuwan mendeskripsikan Arktik dengan
menggunakan garis pohon Arktik atau suhu rata-rata untuk menarik batas-batas
mereka. Dan banyak stasiun penelitian di kawasan ini dibangun pada lembar es
laut, melayang dan tidak memiliki lokasi yang tetap.
Karena itu, sulit menentukan tentang kapan manusia tiba di Kutub
Utara.
Namun, dalam laporan yang baru dipublikasikan di Science, tim
peneliti Rusia mencatat sejarah bahwa manusia pernah menduduki wilayah itu
sejak 45.000 tahun yang lalu, beberapa ribu tahun lebih awal dari penelitian
arkeolog sebelumnya.
Tapi penemuan mereka bukan berdasarkan argumen tentang mumi
beku, atau apapun benda buatan manusia. Sebaliknya, penemuan itu adalah tubuh
mammoth, yang ditemukan pada 2012 di pantai Siberia Yensei Bay.
Para peneliti mampu menentukan usia tulang itu. Dan kematian
gajah berbulu terjadi pada 45.000 tahun yang lalu. Penemuan itu didukung oleh
analisis cabang, gambut, dan bahan-bahan alami lain yang ditemukan di sekitar
dan di atas tubuh.
Berdasarkan hal itu, sang raksasa itu, jelas dalam kondisi sehat
saat mati.
Pemeriksaan gigi menyatakan ia masih berusia sekitar 15 tahun
pada saat kematiannya, sementara jumlah besar lemak di punuknya (banyak
jaringan lunak yang tetap utuh) menunjukkan bahwa itu gajah purba itu sehat.
Lantas apa yang menyebabkan ia mati dan kawanannya punah?
Para peneliti mengatakan, dari kematiannya, terlihat bahwa
disebabkan oleh senjata runcing yang hanya bisa dibuat oleh manusia.
Sebuah tanda kecil, lubang simetris pada tengkorak menunjukkan
bahwa raksasa itu telah tertusuk tombak, seperti yang ditemukan adanya patahan
pada kaki dan bahu tulang.
Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa cedera yang terjadi
sebelum kematian hewan itu. Potongan tulang belalai juga telah dilucuti, yang
membuat para ahli berspekulasi mungkin cara untuk membunuh hewan itu dengan
memotong-motong belalai dengan alat yang tajam. Sang raksasa mati
perlahan-lahan.
Untuk membuat mendukung temuan mereka, para peneliti juga
menyebutkan penemuan baru dari bangkai serigala dari lokasi terpisah di Arktik
Siberia. Sebuah analisis tulang serigala yang hidup pada periode waktu yang
sama seperti mammoth.
Sinar-X menemukan tanda pada salah satu tulang kaki serigala
merupakan "hasil dari cedera penetrasi yang ditimbulkan oleh senjata
tajam." Tulang juga menunjukkan tanda-tanda penyembuhan, menunjukkan bahwa
serigala selamat cedera dan menghilangkan kemungkinan luka itu terjadi setelah
kematian hewan.
"Kedua insiden menunjukkan bahwa bahkan selama fase periode
waktu antara 3.000 dan 57.000 tahun yang lalu, manusia telah menghuni Arktik
yang cukup luas itu, meskipun jumlah penduduk mungkin kecil dan jarang menetap
untuk waktu yang lama ," tulis para peneliti seperti dilansir dari The
Atlantic.
Ini adalah kedua kalinya dalam 1 dekade penemuan Siberia telah
membuat arkeolog memikirkan ada apa di kawasan itu. Pada 2004, tim yang
dikepalai Vladmir Pitulko, menemukan alat berburu berusia 31.000 tahun di
sepanjang sungai Yana di pusat Siberia, mendorong kembali bukti keberadaan
manusia telah ada sekitar 15.000 tahun.
"Luasnya Arktik itu membuat berpikir bahwa di kawasan itu
tak mungkin seorang manusia bisa hidup. Namun, dari kematian hewan-hewan kutub
ternyata berkata lain. Manusia pernah hidup di kawasan itu, dan kemungkinan,
merekalah salah satu penyebab Mammoth punah. Bisa jadi." tutup peneliti
itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar