KOMPAS.com - Salah satu
binatang purba yang sering ditemukan oleh para arkeolog adalah mammoth. Namun
secara spesifik, gajah purba yang paling banyak ditemukan berjenis kelamin
jantan. Hal ini memicu pertanyaan bagi para ilmuwan. Mengapa mayoritas fosil
mammoth adalah jantan? Para peneliti menemukan bahwa para mammoth jantan ini
mati dan terkubur dengan alasan konyol.
"Pada banyak spesies,
laki-laki cenderung melakukan hal-hal bodoh yang akhirnya membuat mereka
terbunuh dengan cara yang konyol, dan itu tampaknya juga benar bagi
mammoth," kata Love Dalen, seorang ahli biologi evolusioner dikutip dari
New York Times, Kamis (2/11/2017).
Penelitian yang
dipublikasikan dalam jurnal Current Biology ini menyebutkan bahwa mammoth
jantan muda yang hidup pada zaman es mungkin berkeliaran sendiri dan lebih
sering masuk ke situasi berisiko. Mereka sering terseret arus sungai, jatuh
masuk ke dalam celah es, rawa, atau saluran pembuangan. Para peneliti berkata
bahwa hal inilah yang kemudian melindungi tulang mereka selama ribuan tahun.
Sementara itu, mammoth
betina lebih banyak melakukan perjalanan dalam kelompok yang dipimpin seorang
ibu tua yang tahu medannya dan menjauhkan kawanannya dari bahaya.
"Tanpa manfaat hidup dalam kawanan yang
dipimpin oleh betina yang berpengalaman, mammoth jantan mungkin memiliki risiko
kematian yang lebih tinggi dalam perangkap alami seperti rawa, celah, dan danau,"
sambung Dalen dari Swedish Museum of Natural History dikutip dari AFP, Kamis
(2/11/2017). Dalen dan koleganya menganalisis DNA dari 98 fosil mammoth
(Mammuthus primigenius) yang ditemukan di Siberia, Rusia.
Sekitar dua pertiga dari
fosil tersebut adalah jantan. Temuan ini diklaim sebagai sebuah
ketidaksengajaan oleh Patricia Pecnerova, seorang kandidat doktor di Stockholm
University, Swedia, yang merupakan penulis utama dalam laporan tersebut. Hal
ini terjadi saat dia memasukkan data untuk sebuah proyek berbeda mengenai
genetika mammoth.
Sebuah penelitian
sebelumnya tentang fosil mammoth di Hot Springs, South Dakota, Amerika Serikat
juga menemukan hal serupa. Mereka menemukan bahwa di antara 14 fosil yang
ditemukan, hanya satu yang betina, sedangkan sisanya merupakan mammoth jantan
muda. Berbeda dengan penelitian sebelumnya tersebut, penelitian Pecnerova
meneliti rasio seks dengan menggunakan genetika.
Keterbatasan terbesar
dalam penelitian ini adalah penjelasan tentang hal ini masih bersifat
spekulatif dan sebagian besar didasarkan pada perilaku gajah sekarang. Idenya
adalah mammoth, seperti gajah hari ini, hidup dalam masyarakat matriarki, di
mana betina dewasa melindungi kaum mudanya. Saat gajah menginjak usia 14 atau
15 tahun, saat pubertas terjadi, gajah jantan akan meninggalkan kawanan untuk
menjadi penyendiri atau bergabung dengan kelompok jantan lain.
Sayangnya, kelompok gajah
jantan sering dipimpin oleh gajah jantan muda yang tidak berpengalaman. Saat
itulah mereka cenderung melakukan sesuatu yang berisiko hingga mendapati diri
mereka terjebak dalam kotoran beku. Perangkap alami mengubur tubuh mereka
dengan cepat dan melindunginya dari para pemangsa.
Beth Shapiro, seorang ahli
biologi molekuler evolusi dari University of California yang tidak terlibat
penelitian ini turut memberikan pendapatnya. Shapiro berkata bahwa dia terkejut
dengan hasilnya dan hipotesis tersebut memang masuk akal bila mengingat apa
yang kita ketahui tentang perilaku gajah. Dia menambahkan, akan menarik melihat
apakah perbedaan jenis kelamin ini juga bekerja untuk fosil mamalia prasejarah
lain seperti bison atau kuda.
Daniel Fisher, seorang
ahli paleontologi dari University of Michigan berkata bahwa hipotesis ini
samgat baik. Namun, dia menyayangkan penggunaan gading dalam penelitian ini.
Menurut dia, gading seharusnya tidak digunakan dalam penelitian ini karena
mammoth jantan sering mematahkan gading mereka dalam pertarungan, tapi itu
tidak berarti mereka meninggal. Menyanggah pendapat Fisher, para penulis
penelitian ini berpendapat bahwa meskipun mereka telah mengurangi fragmen
gading dan hanya menggunakan sampel gigi, tulang, serta rambut, jumlah mammoth
jantan yang mati masih melebihi mammoth betina.
Sumber : sains kompas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar